Album narsis sepeda B2W hitam, lihat di sini. Read more!
Hari ini adalah hari ke-5 gue naik sepeda ke kantor. Nggak tiap hari sih, minimal Rabu dan Jumat. Itu pun cuma setengah jalan, karena nganterin Shita dulu ke kantor, baru abis itu turunin sepeda dari mobil dan gowes ke kantor. Dengan cara ini, jarak gowes ke kantor sekitar 7,8 km berangkat dan 6,3 km baliknya. Kok beda? Karena jalur berangkat dan pulang emang beda, nyesuaiin sama arus lalu lintas yang gampang.
Hari ini, hari ke-5 B2W, ada yang beda. Hari ini, gue naik sepeda dari rumah!!! Buat banyak orang yang udah biasa B2W, ini mah biasa aja. Tapi buat gue, ini luar biasa karena belum pernah sebelumnya naik sepeda sejauh ini, mau ngantor, lagi.
Pagi ini, 15,2 km gue tempuh dalam waktu 52 menit. Dari Rempoa ke WTC Sudirman. Jalan santai, kecepatan rata-rata 16 km/jam. Berangkat sengaja lebih pagi, jam 5.40 udah start, jam 6.32 udah sampe parkiran kantor.
Perjalanan pagi ini, ada beberapa tanjakan yang cukup bikin ngos-ngosan :-) Maklum, masih pemula. Abis tanjakan, pasti tarik napas dulu, gowes pelan-pelan. Tiap lampu merah juga kesempatan untuk tarik napas. Sambil minum juga kalo perlu. Lumayan, bekel minuman isotonik cukup untuk ngilangin haus dan yang paling penting mencegah dehidrasi. Kata dokter sih, dianjurin setiap gowes 10 menit minum dulu. Biar nggak dehidrasi.
Di perempatan Melawai, pas berenti lampu merah, sempet disapa sama pengendara motor. Dia buka kaca helm, terus nanya mau ke arah mana. Terus dia bilang, dia juga suka gowes pake sepeda onthel tiap Selasa Jumat. Pas lampu udah ijo, dia bilang, "Hati-hati ya...". Seneng juga dapet temen di jalan. Pas nyebrang jembatan busway juga ketemu B2Wer, tapi nggak ngobrol, cuma saling tegur aja.Lucunya pas udah dikit lagi di ujung turunan jembatan, ada bapak-bapak tua tukang jualan kue pake sepeda papasan jalan, dia bunyiin bel, ting ting, persis kalo papasan sama B2Wer. Terus dia senyum ke gue. Gue bales juga senyumnya lengkap dengan sedikit anggukan kepala. Mungkin dia merasa gue temen seperjuangan, naik sepeda untuk kerja. Nggak lah, gue nggak ada apa-apanya dibanding bapak tua itu. Dia jauh lebih hebat. Mungkin dia gowes setiap hari dan sepanjang hari untuk cari nafkah. Gue paling yang rutin cuma Rabu Jumat, itu pun setengah jalan, dan sepanjang hari menikmati dinginnya AC yang sejuk.
Nah, pulangnya, udah agak was-was sebenernya, kuat nggak ya sampe rumah. Ah, yang penting jalan santai aja lah. Alon-alon asal kelakon. Start dari kantor jam 17.20, lewat Sudirman, Blok M, Blok A, tembus Radio Dalam, Pd. Indah, Deplu, Rempoa Raya, sampe deh ke rumah tepat jam 18.35. Cek speedometer, lho kok cuma 13,9 km? Padahal jalan yang dilewatin sama.
Ah sudahlah, yang penting selamat sampai rumah. Pegel-pegel dikit, keringet banyak banget. Hari Jumat, kalo badan fit, lagi ah. Sekalian ikut nguler bareng Rosela. Belum pernah nih.
Read more!Subjects: B2W, global warming
Kita semua tahu, film Fitna yang dibuat oleh Geert Wilders telah membuat polemik di dunia, termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Terlepas dari isi filmnya, keputusan pemerintah Indonesia via Depkominfo melalui surat edaran nomor 84/M.KOMINFO/04/08 tanggal 2 April 2008 untuk memblokir akses ke situs-situs yang memuat film Fitna menimbulkan reaksi yang unik yang bersumber dari pengguna internet Indonesia. Masalah utamanya adalah, yang diblokir oleh Depkominfo adalah situs-situs yang sangat populer dan boleh dikatakan menguasai hajat hidup sebagian besar pengguna internet Indonesia. Sebut saja youtube, multiply, rapidshare dan lain-lain, yang selain terdapat film Fitna, jauh lebih banyak berisi hal lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan film tersebut. Berbagai kritik dan caci-maki segera beredar di dunia maya, mengomentari pemblokiran yang bagaikan membunuh seekor lalat dengan meriam. Namun, alih-alih terblokir, justru di setiap mailing list dan forum web banyak yang menyodorkan cara untuk dapat tetap mengakses situs-situs populer tersebut. Mulai dari yang paling sederhana dengan menggunakan alamat IP dari situs bersangkutan sampai ke penggunaan anonymous proxy dan bahkan fasilitas translate google. Hal tersebut dilakukan bukan karena keinginan melihat film Fitna, tapi lebih kepada protes terhadap usaha pemberangusan informasi yang dilakukan pemerintah. Mungkin pemerintah harus belajar bahwa di dunia internet, adalah suatu hal yang mustahil untuk membendung informasi. Pasti ada cara lain untuk mengakses informasi tersebut, apalagi jika informasi tersebut sudah menyebar. Blokir sendiri hanya bertahan beberapa hari, mungkin pemerintah menyadari kemustahilannya dan ISP juga sudah mulai lebih pintar dengan menyaring informasi tertentu saja, bukan semuanya. Saya harap, di masa depan pemerintah sudah mulai lebih pandai dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan internet. Jangan mudah percayadengan seorang ahli telematika saja. Minta juga input ke kalangan yang lebih luas.
Subjects: babblings
Last night, I was lucky to be invited to the gala premiere show of "LOVE" before its public launching on February 14, 2008. "LOVE" is an English titled Indonesian film directed by an Indian citizen who lives in Kuala Lumpur with musical performance by Bulgarian Symphony Orchestra. Quite an interesting mix, actually.
This movie is a remake of a Malaysian film titled "Cinta" (2006) who was created and directed by Kabir Bathia, who's also directed this movie. People who have watched both versions declared that the story is 90% different. BTW, Titien Wattimena, the writer and co-director of "LOVE", was only given the concept of the movie and developed the scenario without watching the original version first, even until now.
Multiple storylines in one film ("LOVE" has five) is not really original. Some viewers stated that "LOVE" resembles Richard Curtis' "Love Actually" (2006), which also has many storylines and talking about love. Although the main idea is the same, I would say that Titien has successfully created original plots that will not make people connect to stories in "Love Actually". She has created 5 different storylines intertwined in one movie with an enjoyable result.
She has been nominated for best scenario, for "Mengejar Matahari" and "Tentang Dia", in FFI 2004 and 2005 respectively and has won Piala Vidya for "Sebatas Aku Mampu". Her other works include "Cinta Pertama", "D'Bijis" and "Badai Pasti Berlalu" (remake).
I would also credit the director for the soft appearance of the sponsors' product. The editor for nicely tied in storylines, the art director and director of photography for the beautiful scenes. And last but not least will give my standing ovation for Sophan Sophiaan and Widyawati, who are brilliantly showing their maturity in acting.
I will not hesitate to vote this as 2008 Valentine movie for rather mature audience, who has more conscience of life. I would not suggest this to average 12 – 17 years old audience, who might not get any message from this movie other than the appearance of handsome and beautiful casts (yes, I do make age stereotyping here :-). I personally think that the Alzheimer, autism and breast cancer issues found in the movie will not touch base in those age band.
I rate this movie an 8.5 of 10, in Indonesian movies scale. So, heavily-in-love couples or just-fall-in-love couples or even will-fall-in-love couples, let's go to the cinema and enjoy the movie.
Guys, be ready to sweep her tears. Or maybe yours. :-)
"LOVE" movie web site: http://www.themovielove.com/
Read more!Subjects: movies
